PERBAIKAN SUBSTANSI DAN INOVASI PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI DI ERA REVOLUSI 4.0
1. Tantangan Revolusi 4.0 Terhadap Pengembangan Kurikulum PAI
Era revolusi 4.0 merupakan era yang berisi begitu banyak kemajuan di bidang teknologi, komunikasi dan informasi yang semakin cepat dan mudah dalam pengaksesannya. Era revolusi 4.0 sendiri memiliki sejarah yang panjang hingga akhirnya dapat terus mengalami kemajuan hingga saat ini. Revolusi industry sudah mulai sejak akhir abad ke-18 yang disebut revolusi industry 1.0 ditandai dengan ditemukannya alat tenun mekanis pertama tahun 1784, kemudian awal abad ke-20 disebut revolusi industry 2.0 dengan beralihnya tenaga uap ke tenaga listrik, selanjutnya awal tahun 1970 revolusi industry 3.0 dengan penggunaan elektronik dan teknologi informasi guna membantu memudahkan produksi, lalu revolusi industry 4.0 pada tahun 2011 sampai sekarang dengan banyak produk yang sudah dihasilkan dari revolusi industry 4.0
Revolusi industry sekarag memiliki pengaruh yang besar dan mempengaruhi hampir di semua bidang kehidupan. Salah satunya adalah bidang pendidikan yang terus ikut memperbaharui dirinya agar dapat sesuai dengan zaman. Tantangan revolusi 4.0 terhadap pengembangan kurikulum PAI sangat banyak dan bervariasi. Pertama, tantangan gagap teknologi yang masih menjangkiti sebagian besar masyarakat Indonesia, baik di daerah desa, pinggiran kota, bahkan daerah pedalaman. Data menunjukkan dari total guru yang ada di Indonesia, baru 40% yang melek teknologi, informasi dan komunikasi, sedangkan yang lainnya, 60% guru masih gaptek atau gagap teknologi era digital ini. Gaptek atau gagap teknologi ini menjadi salah satu tantangan terberat yang harus bisa dilewati di era revolusi 4.0 karena di zaman ini semua sudah serba canggih namun ada saja orang yang masih belum bisa menggunakan gawai, tidak dapat akses internet, bahkan untuk mendapat listrik pun masih kesulitan. Efeknya terhadap pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam, akan terhambat proses berkembangnya ide, apabila perlu untuk memanfaatkan teknologi tetapi masih gagap teknologi. Selain itu akibat gagap teknologi maka pengimplementasian kurikulum yang sudah dikembangkan menjadi tidak maksimal dan akhirnya gagal untuk diajarkan. Kedua, Dengan semakin majunya teknologi informasi membuat materi ataupun kurikulum yang diajarkan juga harus bisa sepadan atau seimbang dengan kemajuan zaman itu, maka hal ini menjadi
salah satu tantangan yang dapat menggugah para guru/pendidik, bahkan pemerintah agar tetap bisa menyajikan atau mengembangkan kurikulum pendidikan agama Islam dengan tetap memperhatikan batasan-batasan yang baik namun juga bisa mengikuti perkembangan zaman. Ketiga, Tantangan revolusi industry 4.0 yang selanjutnya yaitu paradigma yang melekat pada revolusi industry 4.0, yaitu pragmatis atau preventif. Dari sudut pandang pragmatis, revolusi industry merupakan solusi dan kemudahan dalam kegiatan belajar mengajar dengan mencoba menemukan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan demi tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Dari sudut pandang preventif, yaitu lebih kearah pencegahan. Jadi digambarkan bahwa revolusi industry ini bagaikan pedang bermata dua yang bisa saja membawa dampak negative dan positif bagi kita. Khususnya dalam mengembangkan kurikulum pendidikan agama Islam, perlu berhati-hati menggunakan teknologi dan informasi yang bisa saja apabila kita kurang tepat pemilihan teknologi tersebut, bisa jadi kita akan gagal dalam menyampaikan kurikulum pendidikan agama Islam kepada siswa.
Komentar
Posting Komentar